Website KONI Jawa Tengah Dikeluhkan Kontingen Porprov 2018

Surakarta – Sebagai pusat informasi bagi kontingen dan masyarakat Jawa Tengah, website milik Koni Jawa Tengah dikeluhkan lambat dalam menampilkan informasi terbaru. Keluhan ini disampaikan beberapa kontingen karena panitia penyelenggara Porprov Jateng 2018 lambat dalam mengupdate webnya termasuk perolehan hasil masing-masing medali kontingen.

Dari pantauan hari pertama penyelenggraan Porprov, pada web KONI Jateng tidak menunjukan klasmen perolehan medali seperti yang ada di lapangan. Padahal, hal tersebut sangat dinantikan, terutama oleh setiap kontingen peserta. Seperti pada kontingen Banyumas, yang sejak dua hari lalu masih saja bertahan di peringkat ketiga, dengan perolehan medali emas 19 buah. Padahal, Senin (21/10) saja, di hari kedua saja sudah lebih dari 20 medali emas. Belum lagi perak dan perunggunya, yang juga akan mempengaruhi posisi klasmen.

“Saya ikuti, web-nya tidak update, padahal setiap kontingen dan masyarakat juga menanti perubahan klasmen, perolehan medali,” kata official kontingen Banyumas, Saladin Ayyubi,(22/10). Namun anehnya, untuk kontingen Kota Semarang dan Surakarta selalu update dalam perolehan medali emasnya.

Pihaknya sangat menyayangkan dengan hal tersebut. Karena, untuk even sekelas Porprov, sudah selayaknya panitia mempersiapkan segala detailnya. Terlebih untuk masalah klasmen di setiap harinya. Ada perwikilan yang dipasang di masing-masing venue, untuk menyampaikan ke pusat informasi untuk terus di update.

“Untuk even sekelas Porprov sudah pasti ada tim IT, sudah ada anggaran besar, tapi kok malah seperti ini. Banyumas sudah 31 emas, 23 perak, dan 35 perunggu, tapi di web masih 20 emas, 22 perak dan 25 perunggu,” katanya.

Hal senada dikeluhkan oleh kontingen Kabupaten Purbalingga. Lokasi venue yang terpencar lumayan jauh, menjadi kendala tersersendiri. Seharusnya, sebagai media center harus bisa memberikan berita terbaru dari masing-masing cabor.

“Kami sebagai official tentu ingin mendapatkan update informasi dari masing-masing cabor, sedangkan para pelatih dan official di lapangan bisa saja fokus pada atlet, dan pertandingan, jadi sulit dihubungi, maka web menjadi hal penting karena namnya media center,” kata ketua kontingen Purbalingga Joko Santoso.

Selain itu, ajang olah raga empat tahunan ini tentunya menjadi hal yang sangat layak sebagai pemberitaan. Oleh karena itu, banyak media yang ingin mendapatkan data-data dari cabor yang dipertandingan. Namun, lagi-lagi karena tidak venue tersebar, bahkan beberapa di luar kota Solo, maka media center seharusnya bisa menjadi bank data.

“Karena media lokal di masing-masing Kabupaten/kota juga memberitakan untuk kontingen-kontingen kota mereka, jika tidak bisa mendatangi satu persatu venue pertandingan, media center menjadi tempat bisa memfasilitasi data yang ada,” ujarnya. (sa)